Pages - Menu

Saturday, March 31, 2018

Tahun Terakhir Dena - Purba Sitorus



                                                   Judul:       Tahun Terakhir Dena
                                                   Penulis:    Purba Sitorus
                                                   Penerbit:  Laksana
                                                   Halaman: 204
                                                   ISBN:      978-602-407-313-8
                                                   Terbit:     2018

sekali ini saja, aku tidak ingin jadi Dena yang biasanya

*****

Dena: Anak bungsu dari dua bersaudara. Siswi beasiswa di SMU Harapan, pintar, disiplin, giat belajar demi beasiswa ke luar negeri.
Farah: Sahabat Dena, siswi beasiswa di SMU Harapan.
Adit: cowok kaya yang sebenarnya pintar namun nilainya tidak pernah bagus.
Aurel: cewek kaya yang hobi party, punya gank sesama anak-anak kaya dan populer lainnya: Karen, Mario, Adit, David.
Kak Bima: Kakak Dena, penurut, kuliah di kedokteran namun suka musik. 

*****

SINOPSIS:

Tahun depan.
Tahun depan mimpi Dena harus terwujud.
Ini tahun terakhirnya jadi siswa di SMU Harapan.
Dena ingin beasiswa kuliah ke luar negeri, meninggalkan neraka ini.
Waktu gurunya bilang nilai sempurna saja tidak cukup, Dena kebat-kebit. Demi rekomendasi dari gurunya, dia rela melakukan apa saja. Termasuk mengajari Adit agar nilai Matematikanya membaik.
Adit! Cowok bandel, tajir, dan suka bikin repot. Tapi ternyata kok seru juga bergaul dengan mereka.
Dunia Dena jungkir balik. Untuk pertama kalinya, Dena tidak yakin dengan pilihan hidupnya.
Begitulah tahun terakhir Dena berlangsung.
Tahun terakhir yang membuatnya memandang masa SMU dari sisi yang berbeda. 

***** 


Dena dan Farah adalah sahabat karib, keduanya siswi beasiswa di SMU Harapan. Sebagai anak beasiswa mereka termasuk kedalam penghuni kasta paling bawah. SMU Harapan memang anomali, sangat berbeda dengan SMU lainnya yang mana jika sekolah lain mendapatkan beasiswa adalah hal terindah, jadi primadona sekolah, kebanggaan, tetapi di SMU Harapan punya cerita lain. Masuk sebagai siswa penerima beasiswa maka statusnya akan menjadi berbeda,  dari menjadi perwakilan sekolah untuk lomba bahkan hingga segala pekerjaan remeh temeh pun akan jadi tugas siswa penerima beasiswa. 

Ini tahun terakhir Dena di SMU Harapan, dalam hitungan bulan dia akan lulus dan targetnya adalah mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Demi pergi jauh dari keluarganya yang belakangan ini sudah semakin tidak harmonis lagi, kehidupan orangtuanya di ambang perceraian. Tetapi Dena tidak pernah menceritakan keinginannya untuk kabur dari rumah ini ke siapa pun, bahkan ke orang tua, kakak dan sahabatnya, Farah. 

Kakak Dena, Kak Bima, tetap memilih mengikuti keinginan orangtuanya untuk masuk ke fakultas kedokteran meskipun dia tidak menginginkannya. Kak Bima sebenarnya sangat menyukai musik, ingin mengambil jurusan musik namun ditentang habis oleh Sang Ayah. Ayah sibuk dengan pekerjaannya sehingga jarang pulang. Sedangkan Ibu sibuk dengan urusan kehidupan sosial dan arisannya. Keluarga Dena sudah lama tidak berkumpul seperti sedia kala. 

Suatu hari di kelas Biologi, Ibu Irena memberi tugas tentang proyek pengganti ujian semester. Menurutnya ini pendekatan baru yang akan lebih efektif dalam mengukur banyak hal sekaligus. Mulai dari pemilihan ide, eksekusi, hingga taraf presentasi. Perbedaan antara proyek yang dikerjakan asal-asalan dan sungguh-sungguh akan kelihatan nantinya. Tentu, hal ini disoraki tidak setuju oleh para siswa tapi mereka tidak bisa berbuat apa selain mengikuti keinginan Bu Irena. 

Sang guru meminta agar mereka membentuk kelompok yang terdiri dari dua hingga tiga orang. Tentu, Dena dan Farah akan menjadi satu kelompok. Diikuti Janice yang memaksa ingin ikut masuk ke dalam kelompok Dena dan Farah. Sebelumnya Dena dan Farah hanya ingin mengerjakannya berdua saja, tetapi Janice memaksa. Akhirnya Dena mengalah meski sebenarnya Farah tidak setuju. Mereka pun mengatur jadwal, strategi dan berbagi tugas ntuk menyelesaikan proyek tersebut. 

Sebagai penerima beasiswa, Dena yakin dan optimis bahwa dia pun bisa mendapatkan beasiswa luar negeri seperti yang ditargetkannya. Usahanya sudah maksimal. Namun, suatu hari Pak Broto, Sang guru Matematika memanggilnya, menanyakan rencana Dena selanjutnya. Dena terkejut ketika Pak Broto mengatakan dia tidak akan berhasil meskipun telah mengantongi nilai tinggi. Dena harus mendapatkan rekomendasi khusus dari sekolah jika ingin mendapatkan beasiswa. Rekomendasi yang menyatakan bahwa Dena memang berbeda dan pantas untuk mendapat beasiswa tersebut. 

Pak Broto menawarkan solusi kepada Dena, program mentoring yang mana Dena diwajibkan untuk membantu temannya yang kurang dalam hal nilai. Pak Broto memilihkan Adit sebagai murid tentir Dena untuk program ini. Tetapi tidak mudah untuk menjalankan program ini, Adit si cowok rese yang banyak maunya itu punya banyak cara untuk menghindari Dena. Meski demikian, Dena pun tidak putus asa. Segala hal dilakukan agar Adit mau mengikuti program tentir ini, termasuk ketika Adit memintanya untuk menghisap sebatang rokok, sebagai syarat agar Adit terbuka untuk mengikuti program mentoring dari Pak Broto ini. 

Program mentoring pun berjalan, ternyata Adit bukan cowok bodoh seperti yang difikir Dena. Dia sebenarnya pintar, cepat mengerti dan bahkan jawaban-jawabannya benar ketika diberi contoh soal. Tetapi di sekolah Adit bertingkah, nilainya tetap anjlok, merah. Hal ini membuat Pak Broto tetap meminta Dena untuk terus berusaha dan lebih giat lagi dalam mengajari Adit. Dena pun meminta agar Adit lebih serius mengerjakan soal saat di sekolah agar nilainya tidak merah lagi tetapi Adit tidak mau melakukannya. 

Sejak adanya program mentoring itu waktu Dena banyak terbuang untuk program tersebut. Tugas kelompok untuk proyek akhir semester pun terbengkalai. Bahkan hubungan persahabatannya dengan Farah juga ikut renggang karena waktu Dena tersita demi janji belajar bareng Adit. Belum lagi belakangan teman-teman Adit sesama anak-anak populer; Aurel, Karen, Mario, David ikut mencuri perhatian Dena. Sebenarnya bukan keinginan Dena untuk gabung bersama mereka namun Aurel terus saja membawa Dena masuk ke kehidupan mereka. Lagi-lagi demi beasiswa keluar negeri itu, Dena pun menurut. Biar bagaimana pun, semua akan ada kaitannya dengan Adit.

Hingga suatu hari, Aurel si Putri party membujuk Dena untuk ikut ke pesta pantai yang diadakannya. Dena pun luluh dan mengikutinya. Bahkan Dena rela berbohong pada Ibunya untuk pertama kalinya, dengan berpura-pura meminta izin untuk nginap di rumah Farah demi mengerjakan tugas kelompok di rumah Farah.

Sekali ini saja, aku ingin egois. 
Sekali ini saja, aku tidak ingin jadi Dena yang biasanya.
(halaman 134)
----------------

Bagaimana kisah lengkapnya? Akankah Dena mendapatkan beasiswa luar negeri yang diincarnya setelah melakukan segala hal demi kelancaran program mentoring itu? Bagaimana hubungan persahabatannya dengan Farah? Kehidupan keluarganya berakhir bahagiakah? Temukan jawabannya langsung pada novel ini.

Baca novel ini jadi senyam-senyum sendiri mengingat masa putih abu-abu belasan tahun yang lalu. Meski kehidupan SMA saya dulu tidak jungkir balik seperti Dena tapi kisah yang tertulis pada novel ini khas masa SMA banget. Cerita persahabatan, gank, kegilaan masa remaja yang tidak bakalan pernah terulang lagi. Hanya untuk dikenang. Alur ceritanya tidak membosankan. Suka dengan penggambaran tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini.

Dena memang sangat disiplin dan gigih dalam meraih impiannya. Tapi sayang dia juga sangat pandai menyimpan perasaan dan rahasianya sendiri bahkan kepada keluarga dan sahabat dekatnya. Hingga dia pun tidak bisa mengendalikan diri dan hal ini jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Menjaga rahasia memang penting tapi dengan bercerita kepada orang terdekat bisa meringankan beban pikiran dan juga perasaan. Tidak hanya itu, dengan bertukar pikiran kita dapat menemukan solusi dari masalah yang dihadapi. Masalah pun bisa terpecahkan bersama.

Penasaran dengan ceritanya? Segera baca novel ini yah.


~~~~~Happy Reading!~~~~~


No comments:

Post a Comment